Selamat sore menjelang petang. Ini adalah awal bangkitnya haydar lagi dari keterpurukan males ngeblog hahaha kayak apaan aja ya. Ya bisa dibilang mati suri sih. At Least, aku mau untuk mencoba lagi menghidupkan semangat ngeblog ku hehehe. Mungkin orang-orang jakarta yang baca blogku agak risih ya aku pake kata-kata aku kamu. Well, tepat sekali karena aku pengen bahas tentang komunikasi antar budaya hari ini.
Kenapa aku pake "aku kamu" bukan "lo gue" atau bahkan "ana antum". di jabodetabek orang bilang aku kamu, khususnya cowok ke cewek pasti langsung pada bilang "ciyeee", haaaa?? yang kayak gue anak perantauan asli Jawa bingung dooong (eh kok pake kata gue ya hahaha). kita beda budaya bro, beda cara komunikasinya dan orang-orang kayak aku ini terkadang lebih memilih memakai kata "aku kamu" daripada "lo gue", karena menurut aku dan beberapa temenku sih "lo gue" terlalu kasar. Jadi mengertilah broooo.
Well, mengertilah kami!! okay, ini semua yang namanya KOMUNIKASI BUDAYA cooy. kita mesti memahami budaya, logat, sikap, dari kawan kita. kita mesti tahu latar belakang dia. ya jangan sampe aja kita berantem gara-gara salah paham apalagi kita hidup di Indonesia negara yang heterogen banget. ga kayak orang-orang sekarang ini nih, bom-boman sana sini berantem sana sini. ya itu semua karena dia gatau tuh soal Komunikasi Budaya. ga belajar sih. sebelum kita bahas lebih banyak soal komunikasi budaya, temen-temen tau ga sih apa makna komunikasi antar budaya? yang gimana sih? yuk kita lihat beberapa definisi dari para ahli.
Samovar menyatakan mengenai definisi komunikasi antar budaya dalam bukunya “Intercultural Communication: A Reader” yang di sana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar, 2010).
Definisi lain diberikan oleh Liliweri bahwa proses komunikasi antar budaya merupakan interaksi antarpribadi dan komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (Liliweri, 2004)
Nah Prof. Deddy Mulyana memberikan perumpamaan Komunikasi Antar Budaya itu perihal membangun sebuah jembatan. Kok bisa ya? mmm coba kita pikir, komunikasi kan saling interaksinya komunikan dan komunikator, nah kalau bahasanya, sukunya, adat dan unggah ungguhnya beda gimana ya? oopps yang gatau unggah ungguh, bisa dicek ke sini
Nah repot juga kan, kalau mau nyari relasi, tim kerja, bisnis dan juga kawan yang mempunyai adat, suku, ras, budaya, dan unggah-ungguh berbeda. bisa-bisa bukannya nyari kawan malah nyari lawan bro. Makanya pahami dulu budayanya. Nah ini yang dimaksud jembatan oleh Prof. Deddy Mulyana dalam bukunya "Komunikasi Antar Budaya". Jembatan adalah media yang membantu komunikan dan komunikator agar bisa bertemu. kalo udah saling memahami kan enak diskusinya dan lebih harmonis.
Ok, mas bro mb bro. sampe sini dulu nggeh, mangkeh dilanjutken meleh. di postingan selanjutnya aku bakal nulis tentang aku dan budayaku. See You!!
Daftar Pustaka
Samovar, Larry A, Dkk. 2010. Komunikasi Lintas Budaya. Jakarta: Salemba Humaniora
Liliweri, Alo. 2004. Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Selasa, 05 April 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar