Selasa, 05 April 2016

Citaku berawal dari peluh keringatku

  No comments    
categories: 

NotesNgawur – Menelusuri dinginnya malam, mengayuh sepeda bututnya demi sebuah cita yang terbesit di benaknya . Sepertinya istilah itu cocok bila dikaitkan dengan semangat yang dimiliki seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Serpong, Tangerang Selatan itu. Tetesan peluh keringatnya ketika berjualan asongan tak membuat pemuda ini mengakhiri kegiatannya sehari-hari. Berbekal ransel lengkap dengan buku-buku, ia tak malu berjalan menelusuri jalan sekitar kampus sambil menjalani profesi sampingannya yang biasa disebut Starling (Starbucks Keliling).

“Mari mas, ngopi dulu,” ujar seorang pemuda penjual Starling dengan ramahnya. Achmad Fauzi, dialah mahasiswa sekaligus penjual Starling di kompleks Summarecon Serpong. Mahasiswa Technopreneurship Universitas Surya itu menjual kopi, teh dan minuman lainnya yang ia tata rapi dengan sepeda kesayangannya. Hampir setiap malam ia melakukan hal itu demi menyambung kehidupan sehari-hari. Fauzi, begitu teman-teman memanggilnya, dikenal sebagai pemuda yang sederhana, teguh pada pendirian dan agak cuek dengan omongan orang lain.

Ia adalah salah satu mahasiswa beruntung yang mendapatkan beasiswa dari Tempo untuk kuliah gratis di kampus berbasis Riset buah dari perjuangan Prof.Yohannes Surya, Ph.D. Tak ingin merepotkan orangtuanya di kampung halaman, Fauzi menjalani kesibukannya berjualan demi menghidupi dirinya sendiri. Kesibukannya berjualan tak membuat Fauzi kehabisan akal untuk menyempatkan waktu belajar. Di sela-sela memasak air saat berjualan, Pemuda asal Jawa Tengah ini membaca-baca buku agar tetap bisa mengikuti perkuliahan dengan baik.

Begitu kokoh tekadnya, setelah seharian berkutat dengan mata kuliah dan buku-bukunya dia langsung beranjak pergi mengayuh sepedanya melanjutkan rutinitas malamnya. “Ya beginilah rutinitas saya, untuk bertahan di sini saya tidak mau merepotkan orangtua saya. Saya harus belajar dan mencari uang untuk bertahan sampai lulus dan membahagiakan orangtua saya. Bapak sudah susah di kampong, saya gak mau membebaninya lagi,” terang Fauzi sambil berjualan di kawasan Universitas Multimedia Nusantara.

Menjadi salah satu harapan orangtuanya, Fauzi harus berjuang meniti jalan kesuksesannya dengan caranya sendiri. “Gak ada orang sukses yang kerjanya tidur aja. Semua butuh kerja keras.” Pergi pagi pulang pagi begitulah yang ia lakukan setiap harinya. Ia harus pergi pagi hari untuk kuliah dan bekerja setelahnya sampai dini hari. Berjualan kala yang lain terlelap dan bercanda dengan kawan lainnya. Namun, ia tak pernah mengeluhkannya. Tekadnya yang bulat demi menggapai mimpinya membuatnya menggebu-gebu untuk belajar dan berjualan.

            Ya karena perjuangan kita hari ini tak ada yang sia sia, jika kita hari ini sibuk dengan berjuang, yakinlah masa depan anda akrab dengan kemenangan. Lebih baik puasa hari ini daripada puasa di masa depan, lebih baik susah sekarang daripada susah di masa depan. Dan untuk menjadi mahasiswa inspiratif, tak perlu piala piala memenuhi rakmu. Cukup berjuang keras dan selesaikan dengan tuntas setiap jalanmu, meniti jalan kesuksesanmu.



0 komentar:

Posting Komentar